Deddy Learning Center

Tuesday, March 29, 2005

AGAR CINTA BERSEMI INDAH

Menerima pendamping kita apa adanya dengan tidak berharap terlalu banyak, merupakan bekal untuk mencapai kemesraan dalam rumah tangga dan kebahagiaan di akhirat.
Sebagai hamba yang dianugerahi fitrah, kita memang perlu menyeimbangkan harapan. Tak salah kita berdoa memohon suami yang sempurna, tetapi pada saat yang sama kita juga harus melapangkan dada untuk menerima kekurangan. Kita boleh memancangkan harapan, tapi kita juga perlu bertanya apa yang sudah kita persiapkan agar layak mendampingi pasangan idaman.
Ini bukan berarti kita tidak boleh mempunyai keinginan untuk memperbaiki kehidupan kita, rumah tangga kita, serta pasangan kita. Akan tetapi, semakin besar harapan kita dalam pernikahan semakin sulit kita mencapai kebahagiaan dan kemesraan. Sebaliknya, semakin tinggi komitmen pernikahan kita (marital commitment) akan semakin lebar jalan yang terbentang untuk memperoleh kebahagian dan kepuasan.
Apa bedanya harapan dan komitmen? Apa pula pengaruhnya terhadap keutuhan rumah tangga kita? Harapan terhadap perkawinan menunjukkan apa yang ingin kita dapatkan dalam perkawinan. Bila kita memiliki harapan perkawinan yang sangat besar, sulit bagi kita untuk menerima pasangan apa adanya. Kita akan selalu melihat dia penuh kekurangan. Jika kita menikah karena terpesona oleh kecantikannya, kita akan segera kehilangan kemesraan sehingga tidak bisa berlemah lembut begitu istri kita sudah tidak memikat lagi. Betapa cepat dan berlalu dan betapa besar nestapa yang harus ditanggung.
Sementara itu, komitmen perkawinan lebih menunjukkan rumah tangga seperti apa yang ingin kita bangun. Kerelaan untuk menerima kekurangan, termasuk mengikhlaskan hati menerima kekurangannya membuat kita lebih mudah mensyukuri perkawinan.
Disebabkan oleh komitmen yang sangat kuat pada Allah dan Rasul-Nya istri Julaibib mengikhlaskan hati untuk menikah dengan Julaibib. Yang baru semalam usia pernikahan mereka Julaibib mengakhiri hayat di medan syahid. Ketika ibunya merasa tidak rela dikarenakan rendahnya rendahnya martabat dan buruknya perawakan fisik, ia meminta agar orang tuanya menerima pinangan itu kalau memang Rasulullah saw. yang menentukan.
Orang yang melapangkan hati untuk menenggang perbedaan, cenderung akan menemukan banyak kesamaan. Perbedaan itu bukan lantas tidak ada, tetapi kesediaan untuk menenggang perbedaan membuat kita mudah untuk melihat kesamaan dan kebaikannya. Sebaliknya, kita akan merasa tidak nyaman berhubungan dengan orang lain, tidak terkecuali pendamping hidup kita, bila kita sibuk mempersoalkan perbedaan. Apalagi jika kita sering menyebut-nyebutnya, semakin terasa perbedaan itu dan semakin tidak nyaman membina hubungan dengannya.
Semoga Allah melindungi kita dari mempersoalkan perbedaan tanpa mengilmui. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesibukan yang membinasakan. Semoga Allah pula kelak mengukuhkan ikatan perasaan di antara kita dengan kasih sayang, ketulusan, dan kerelaan menenggang perbedaan. Sesungguhnya telah berlalu umat-umat sebelum kita yang mereka binasa karena sibuk mempersoalkan perbedaan dan memperdebatkan hal-hal yang menjadi rahasia Allah.
Nah, jika mempersoalkan perbedaan, menyebut-nyebutnya, dan mengeluhkannya akan membuat hubungan renggang, mengapa tidak melapangkan hati untuk menenggangnya? Sesungguhnya menenggang perbedaan akan menumbuhkan kasih sayang dan kemesraan yang hangat. Ada perasaan mengharukan yang sekaligus membahagiakan jika kita memberikan untuknya apa yang ia sukai.
Untuk itu, ada tiga hal yang perlu kita pahami agar ia mempercayai ketulusan kita. Pertama, berikanlah perhatian yang hangat kepadanya. Besarnya perhatian membuat dia merasa kita sayang dan kita cintai. Kedua terimalah ia tanpa syarat. Penerimaan tanpa syarat menunjukkan bahwa kita mencintainya dengan tulus. Tidak mungkin menerima dia apa adanya jika kita tidak memiliki ketulusan cinta dan kebersihan niat. Ketiga, ungkapkanlah dengan kata-kata yang tepat.
Berkaitan dengan ungkapan ini, ada sebuah tips yang ahsan yang disampaikan oleh ustaz yang kini masih mengajar di jurusan Psikologi, UII, Yogyakarta ini. Yakni terminologi "aku" dan kamu". Saat kita mendapatkan bahwa masakan yang dibuat pasangan kita keasinan misalnya, maka gunakanlah kata ganti "aku" . "Aku lebih suka kalau sayurnya lebih manis, sayang" Tapi saat kita mendapatkan suatu kelebihan pada diri pasangan, ia sukses menggoreng telor dadar misalnya (biasanya ia menggoreng berkerak), maka kita gunakan kata ganti "kamu". "Kamu memang pintar, istriku". Kita gunakan kata "aku" untuk sesuatu yang sifatnya negatif dan "kamu" untuk sesuatu yang sifatnya positif. Untuk semua hal.
Tampaknya memang benar, karena penggunaan kata ganti "kamu" untuk sebuah kesalahan yang telah dilakukan oleh pasangan kita cenderung menyaran pada arti memvonis alih-alih memosisikan pasangan kita sebagai tertuduh.
Dalam perspektif pragmatik (linguistik), terminologi ini merupakan sebuah upaya penggunaan maksim kesopanan dengan tetap mempertahankan maksim kerja sama. Dengan tujuan agar tidak terjadi konflik pada keduanya.
Berangkat dari petunjuk Allah ini tidak layak bagi kita untuk sibuk mempersoalkan kekurangan ataupun kesalahan, apalagi kekurangan yang sulit dihilangkan, sepanjang ia tidak melakukan kekejian yang nyata. Betapa pun banyak yang tidak kita sukai darinya, kemesraan dengannya tak akan pudar jika kita mencoba untuk berbaik sangka kepada Allah, barangkali di balik itu Allah berikan kebaikan yang sangat besar. Sebaliknya, sesedikit apa pun keburukannya, bila kita sibuk menyebut-nyebut dan mengingatnya, akan sangat memberatkan jiwa. Dampak selanjutnya tidak hanya bagi hubungan suami istri, tetapi merembet pada hubungan kita dan si kecil.
Terimalah ia apa adanya. Terimalah kekurangannya dengan keikhlasan hati maka akan kita temukan cinta yang bersemi indah. Sesudahnya berupaya memperbaiki dan bukan menuntut untuk sempurna. Bukankah kita sendiri mempunyai kekurangan, mengapa kita sibuk menuntut istri untuk sempurna? Ada amanat yang harus kita emban ketika kita menikah. Ada ruang untuk saling berbagi. Ada ruang untuk saling memperbaiki. Dan bukan saling mengeluhkan, alih-alih menyebut-nyebut kekurangan.
Pahamilah kekhilafannya agar ia merasa ringan dalam memperbaiki, meski bukan berarti kita lantas membiarkan kesalahan. Berikanlah dukungan dan kehangatan kepadanya sehingga ia berbesar hati menghadapi tantangan-tantangan yang ada di depan. Tunjukkanlah bahwa kita memang sangat menghargainya, menerimanya dengan tulus, mau mengerti dan bersemangat mendampinginya.
Dalam buku ini Ustaz Fauzil memang tidak hanya membahas seputar keikhlasan menerima pasangan kita apa adanya. Namun tampaknya beliau memandang masalah yang remeh temeh ini dalam beberapa hal telah menjadi batu karang yang cukup terjal yang kemudian melahirkan benih-benih konflik dan alih-alih perceraian.
Seperti pada bagian akhir, beliau menjelaskan bagaimana upaya belajar itu tidak sebatas menerima apa adanya, tetapi juga diikuti dengan belajar mendengar dengan sepenuh hati. Karena tidak jarang kita bukan tidak paham jawaban yang sesungguhnya diinginkan di balik pertanyaan pasangan.
Cukup banyak hal sepele yang tampaknya kita anggap telah kita berikan tetapi ternyata hal itu jauh meleset dari dugaan. Kita bukan mendengar pasangan tetapi mendengar diri sendiri, kita bukan memberi solusi tapi malah menambah materi. Kita bukan memberi jalan keluar alih-alih menghakimi. Kita bukan memberikan jawaban, tetapi malah memberikan pertanyaan. Kita bukan meringankan tetapi malah memberatkan. Benarkah?
Al akhir, kekayaan itu ada di jiwa. Dan keping kekayaan itu dimulai dari ketulusan menerima. Dengan kekayaan jiwa kita akan lebih mudah memberikan empati, lebih mudah untuk memahami, lebih mudah untuk berbagi dan lebih mudah mendengar dengan sepenuh hati.
Hari ini, ketika kita bermimpi tentang sebuah pernikahan yang romantis sementara ikatan batin di antara kita dan pasangan begitu rapuh, sudahkah kita berterima kasih kepadanya? Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan kesalahan kita? Jika belum, mulailah dengan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan ungkapkan sebuah panggilan sayang untuknya. Mulailah dari yang paling mudah, hatta yang paling remeh atau kecil sekalipun. Mulailah dari yang paling kecil, demikian Ustaz Aa' berpesan. Little things mean a lot, demikian Ustaz Fauzil menambahkan. Agar cinta bersemi dalam keluarga kita, agar cinta senantiasa berbunga dalam kehidupan kita.
Masya Allah.
Subhanallah.
Alhamdulillahirabbil alamiin.
Wallahu alam bisshawab.
(bagi yang belum menikah tidak usah khawatir, jika engkau jaga risalah Allah adalah sebuah keniscayaan jika Allah kan berikan yang terbaik buat antum, sekali lagi terbaik dalam perspektif Allah, dan bukan perpektif kita)

Monday, March 28, 2005


Siap Umroh September 2004 Posted by Hello
Rihlah PKS Batang Posted by Hello

Pesantren Kilat di DT Posted by Hello

Rihlah DPD PKS  Posted by Hello

Rihlah DPD PKS Batang Posted by Hello

Biografi Hasan Al Banna

Imam Syahid Hasan Al-Banna

Ia dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur'an.
Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah. Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil.
Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i'dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini:
Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur'an, "Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya."(Q. S. Al-An'aam: 52).
Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa'id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap "rombongan anak-anak kecil" tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla!
Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul 'Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma'iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam.
Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya "Al-Ikhwanul Muslimun," bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.
Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.
Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).
Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.
Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff: 8)
Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas.
Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur'an (di bawah lindungan Al-Qur'an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur'an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur'an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu'an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya:
Saya meyakini: "Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat."
Saya berjanji: "Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia."
Saya meyakini: "Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam."
Saya berjanji: "Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini."
Saya meyakini: "Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.
Saya berjanji: "Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya."
Saya meyakini: "Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka."
Saya berjanji: "Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam."
Saya meyakini: "Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam."
Saya berjanji: "Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut."
Saya meyakini: "Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia."
Saya berjanji: "Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka."
Saya meyakini: "Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari "dien" (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu."

Biarkan Jenggot Anda Tumbuh

Biarkan Jenggot Anda Tumbuh
Abdurrahman Ibn Muhammad ibn Qoshim Al 'AshimiKitabah,

Daftar Isi :
1. Dalil-Dalil Wajibnya Memelihara Jenggot Dan Memangkas Kumis.
2. Hukum Memotong, Mencabut, Atau Mencukur Jenggot.
3. Larangan Dan Bahaya Menyerupai Orang Kafir.
4. Pada Diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Telah Ada Suri Tauladan Yang Baik.

Dalil-Dalil Wajibnya Memelihara Jenggot Dan Memangkas Kumis
Segala puji bagi Allah saja, shalawat dan salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya dan juga selain mereka :ﻋَﻦْ ﻧَﺎﻓِﻊٍ ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻗَﺎﻝَ : ﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴْﻦَ ﻭَﻓِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ ﻭَﺃَﺣْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ. ﴿ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﴾.Dari Nafi’ dan Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, yaitu banyakkanlah jenggotmu dan pangkaslah kumismu.”ﻭَﻟَﻬُﻤَﺎ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻳْﻀًﺎ : ﺃَﺣْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﻭْﻓُﻮْﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ. ﻭَﻓِﻲْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ : ﺍﻧْﻬَﻜُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﻋْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰDiriwayatkan juga oleh keduanya dari Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma : “Pangkaslah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian tumbuh.” Dalam suatu riwayat lain : “Cukurlah kumis kalian dan biarkan tumbuh jenggot kalian.”﴿ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ ﴾ adalah nama rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu.Berkata Ibnu Hajar :﴿ ﻭﻓﺮﻭﺍ ﴾ dengan tasydid di fak-nya : ﴿ ﻭَﻓِّﺮُﻭْﺍ ﴾Berasal dari ﴿ ﺍﻟﺘّﻮْﻓِﻴْﺮُ ﴾ : Yaitu membiarkan, maksudnya biarkanlah banyak.Dan ﴿ ﺇِﻋْﻔَﺎﺀُ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ ﴾ : Yaitu biarkanlah sebagaimana adanya..Adapun perintah untuk menyelisihi orang-orang musyrik sebagaimana dijelaskan oleh hadits dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu :“Sesungguhnya orang musyrik itu, mereka membiarkan kumis mereka tumbuh dan mencukur jenggot mereka. Maka bedakanlah dengan mereka yaitu biarkanlah jenggot kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian.” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang hasan)Dari Abu Hurairah juga diriwayatkan oleh Muslim :Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bedakanlah kalian dengan orang-orang Majusi, karena sesungguhnya mereka (orang-orang Majusi) memendekkan jenggot dan memanjangkan kumisnya.”Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu, dia berkata :Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyebutkan tentang orang-orang Majusi. Beliau bersabda : “Sesungguhnya mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot maka bedakanlah kalian dengan mereka.” Lalu beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menampakkan pemotongan kumisnya kepadaku (Ibnu Umar).Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Termasuk fitrah Islam, memotong kumis dan membiarkan jenggot tumbuh. Sesungguhnya orang-orang Majusi membiarkan kumisnya dan mencukur jenggotnya. Maka bedakanlah dengan mereka, yaitu pangkaslah kumis kalian dan biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”Di dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sesungguhnya beliau bersabda :ﺃُﻣِﺮْﻧَﺎ ﺑِﺈِﺣْﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺸّﻮَﺍﺭِﺏِ ﻭَﺇِﻋْﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﻠِّﺤْـﻴَﺔِ.“Kami diperintah untuk memangkas kumis dan membiarkan tumbuh jenggot.”
. Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :ﺟَﺰُّﻭْﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﺭْﺧُﻮﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ.“Potonglah kumis kalian dan panjangkanlah/biarkanlah jenggot kalian.”Makna ﴿ ﺟَﺰُّﻭْﺍ ﴾ dan ﴿ ﻗَﺼُّﻮْﺍ ﴾ adalah potonglah.Dan makna ﴿ ﺃَﺭْﺧُﻮﺍ ﴾ dan ﴿ ﻃَـﻴّﻠُﻮْﺍ ﴾ adalah panjangkanlah atau diartikan juga, biarkanlah.Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan lafadh ﴿ pangkaslah = ﻗَﺼُّﻮْﺍ ﴾, maka :Tidak meniadakan ﴿ mencukur = ﺍْﻹِﺣْﻔَﺎﺀُ ﴾.Karena sesungguhnya riwayat ﴿ ﺍْﻹِﺣْﻔَﺎﺀُ ﴾ ada di dalam Bukhari-Muslim dan sama maksudnya.Dalam suatu riwayat :ﺃَﻭْﻓُﻮْﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ“Biarkanlah/banyakkanlah jenggot kalian.”Maksudnya : “Biarkanlah jenggot kalian penuh.”Hukum Memotong, Mencabut, Atau Mencukur JengotBerkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Diharamkan mencukur jenggot.”Berkata Al Qurthubi rahimahullah : “Tidak boleh memotong, mencabut, dan mencukurnya.”Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan bahwa menurut ijma’, menggunting kumis dan membiarkan jenggot tumbuh adalah fardlu dengan dalil hadits Ibnu Umar radliyallahu 'anhu :“Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”Dan dengan hadits Zaid bin Arqam secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) :“Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” (Dishahihkan oleh At Tirmidzi)Dengan dalil yang lain, Tirmidzi berkata di dalam Al Furu’ : “Bentuk kalimat ini menurut shahabat kami (yang sepakat dengan Tirmidzi) menunjukkan keharaman.” Dan berkata pula dalam Al Iqna’ : “Haram mencukur jenggot.”Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Barangsiapa membikin seperti rambut maka tidak ada baginya di sisi Allah bagian.”Berkata Zamakhsyari : “Maknanya membikin rambut seperti yang asli (rambut palsu, ed.), yaitu dengan mencabutnya atau mencukurnya dari kedua pipi atau merubahnya dengan menghitamkan.”Berkata pula Zamakhsyari dalam An Nihayah :“﴿ ﻣَـﺜّﻞَ ﺑِﺎﻟﺸّﻌْﺮِ ﴾ : Yaitu mencukurnya dari kedua pipi dan dikatakan mencabutnya atau merubahnya dengan hitam.
Larangan Dan Bahaya Menyerupai Orang KafirImam
Ahmad telah meriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu, dia berkata :Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Biarkanlah jenggot kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”Al Bazzar telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma secara marfu' :“Janganlah kalian menyerupai orang-orang Ajam, biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu dia berkata :Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”Dan riwayat Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Bukanlah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Maka bedakanlah diri dengan mereka (yahudi dan nashara)! Adalah perintah yang dikehendaki oleh pembuat syariat (Allah).”Penyerupaan pada dhahir akan berpengaruh/menimbulkan kasih, cinta, dan kesetiaan dalam batin sebagaimana kecintaan dalam batin akan berpengaruh/menimbulkan penyerupaan dalam dhahir dan ini adalah masalah yang nyata, baik secara perasaan atau dalam praktik nyata.Penyerupaan dengan mereka pada perkara yang tidak disyariatkan bisa jadi sampai pada pengharaman atau termasuk dosa dari dosa-dosa besar (Al Kabair) dan terjadinya kekafiran sesuai dengan dalil syar'iyyah.Sungguh Al Qur'an dan As Sunnah serta ijma' telah menunjukkan perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka secara keseluruhan.Suatu perkara yang diduga sebagai tempat terjadinya kerusakan yang terselubung (dimana hal tersebut) tidak ditegaskan (oleh syar'i) berarti ketetapan hukumnya dikaitkan pada perkara di atas dan dalil tentang pengharamannya telah mengena (tidak terlepas) dari masalah tersebut. Maka menyerupai mereka dalam bentuk dhahir merupakan penyebab penyerupaan dalam akhlak, perbuatan-perbuatan yang tercela, bahkan sampai pada i'tiqad (keyakinan). Sedang pengaruh dari yang demikian itu tidak ditegaskan (oleh syar'i). Dan kerusakan itu sendiri --yang dihasilkan dari sikap penyerupaan-- terkadang hal tersebut tidak nampak dan terkadang sulit (untuk dihindari) atau tidak mudah untuk dihilangkan. Maka segala sesuatu yang menyebabkan pada kerusakan (fasaad), pembuat syariat (Allah ‘Azza wa Jalla) mengharamkannya.Dan diriwayatkan oleh Ibnu Umar radliyallahu 'anhu :“Barangsiapa yang menyerupai mereka sampai meninggal (mati) dia akan dibangkitkan bersama mereka.”Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Bukanlah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya cara salamnya orang-orang yahudi dengan isyarat jari-jemari dan cara salamnya orang-orang nashrani dengan telapak tangan.”Ada tambahan dari sisi Thabrani :“Janganlah kalian mencukur jambul (rambut yang tumbuh di kepala bagian depan), pangkaslah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”Umar radliyallahu 'anhu memberi syarat (tanda) atas orang-orang kafir dzimmah supaya mencukur rambut yang tumbuh di kepala bagian depan untuk membedakan mereka dengan orang-orang Muslim. Maka barangsiapa mengerjakan yang demikian itu, sungguh telah menyerupai mereka.Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan :“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang dari Al Qazu', yaitu mencukur rambut di kepala sebagian dan meninggalkannya sebagian.”Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu :“Tentang (mencukur rambut) kepala, cukurlah keseluruhan atau tinggalkanlah.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)Mencukur rambut pada bagian belakang dari kepala (tengkuk) tidak boleh bagi orang yang tidak mencukur rambutnya keseluruhan dan tidak ada suatu kepentingan dengan mencukurnya itu. Karena yang demikian itu termasuk perbuatan orang-orang majusi. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.Telah meriwayatkan Ibnu ‘Assakir dari Umar radliyallahu 'anhu :“Mencukur rambut pada bagian belakang kepala (tengkuk) bukan karena berbekam adalah perbuatan majusi.”Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencegah untuk mengikuti hawa nafsu mereka. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77)Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dhalim.” (QS. Al Baqarah : 145)Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Mengikuti mereka pada perkara yang mereka khususkan dari agama mereka. Dan mengikuti agama mereka berarti mengikuti hawa nasfu mereka.”Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan bahwasanya salah seorang dari majusi datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dia sungguh telah mencukur jenggotnya dan memanjangkan kumisnya. Maka bertanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada orang tersebut, apa yang menyebabkan berbuat demikian, dia menjawab : “Ini agama kami.” Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (adalah jenggot beliau penuh dari sini sampai sini dan menunjuk tangannya pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) : “Akan tetapi pada agama kami, yaitu memangkas kumis dan membiarkan jenggot tumbuh.”Harits bin Abi Usamah telah mengeluarkan dari Yahya bin Katsir, dia berkata : Telah datang seorang laki-laki 'ajam ke masjid dan sungguh dia telah memanjangkan kumisnya dan menggunting jenggotnya. Maka bersabda (bertanya) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada orang tersebut : “Apa yang membawa kamu (menyuruh kamu) atas ini?” Maka orang tersebut menjawab : “Sesungguhnya rab (raja) saya yang memerintah saya dengan ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan agar memanjangkan jenggot dan memangkas kumis saya.”Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zaid bin Habib kisahnya dua utusan kisra (kaisar), berkata Zaid bin Habib : Telah masuk dua utusan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan sungguh keduanya telah mencukur jenggot dan memelihara kumisnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memandang dengan benci kepada keduanya dan bersabda : “Celakalah kalian berdua. Siapakah yang menyuruh kalian dengan ini.” Kedua orang tersebut menjawab : “Yang memerintahkan kami adalah rab kami (yaitu kaisar).”Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :“Akan tetapi Rabbku memerintahkan untuk memelihara jenggotku dan memotong kumisku.”Muslim meriwayatkan dari Jarir radliyallahu 'anhu, ia berkata :“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam banyak rambut jenggotnya.”Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Umar radliyallahu 'anhu : “(Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) itu tebal jenggotnya.” Dan dalam suatu riwayat : “Banyak jenggotnya.” Dan dalam riwayat lain : “Lebat jenggotnya.”Dari Anas radliyallahu 'anhu : “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, jenggotnya penuh dari sini sampai sini --menunjuk dengan tangannya pada lebarnya--.”Sebagian ahli ilmu membolehkan (memberikan keringanan) dalam masalah mengambil (memotong) jenggot yang lebih dari genggaman dengan dasar yang dilakukan oleh Ibnu Umar radliyallahu 'anhu . Namun kebanyakan ulama membencinya (mengambil yang lebih dari genggaman). Dan ini sudah jelas dengan (keterangan) yang terdahulu.Berkata Imam Nawawi rahimahullah : “Yang terpilih yaitu membiarkan atas keadaannya, yakni tidak memendekkan sesuatu dari jenggot secara asal.”Al Khatib telah mengeluarkan dari Abi Said radliyallahu 'anhu bahwa : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Janganlah salah satu di antara kalian memotong dari panjang jenggotnya.”Dalam kitab Ad Darul Mukhtar disebutkan : “Adapun memotong dari jenggot itu bukan menggenggam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Maghrib dan para banci dari kaum laki-laki, maka tidak seorang pun yang membolehkannya.”Pada Diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Ada Suri Tauladan Yang BaikAllah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya). Dan janganlah kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata : “Kami mendengarkan.” Padahal mereka tidak mendengarkan.” (QS. Al Anfal : 20-21)“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An Nur : 63)Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam jahanam dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa' : 115)Allah ‘Azza wa Jalla memperindah para laki-laki dengan jenggot. Dan diriwayatkan termasuk tasbihnya para Malaikat :“Maha Suci (Allah) yang telah menghiasi orang laki-laki dengan jenggot.”Dikatakan di dalam At Tamhid :“Haram mencukur jenggot, tidaklah ada yang berbuat demikian (mencukur jenggot) kecuali banci dari (kalangan) laki-laki.”Imam Nawawi rahimahullah dan yang lain berkata :• Jenggot adalah perhiasan laki-laki dan merupakan kesempurnaan ciptaan.• Dengan jenggot, Allah membedakan antara laki-laki dan perempuan dan termasuk tanda-tanda kesempurnaan, maka mencabut pada awal tumbuhnya adalah menyerupai anak laki-laki yang belum tumbuh jenggotnya dan merupakan kemungkaran yang besar.• Demikian juga mencukur, menggunting, atau menghilangkan dengan obat penghilang rambut termasuk kemungkaran yang paling jelas dan kemaksiatan yang tampak nyata, menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta terjerumus kepada perkara yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarangnya.Telah berkata dan bersaksi bahwa seorang laki-laki yang mencabut rambut di bawah bibirnya di sisi Umar bin Abdul Aziz maka beliau menolak persaksiannya. Umar bin Khaththab radliyallahu 'anhu dan Ibnu Abi Layla (seorang qadli di Madinah) menolak persaksian semua orang yang mencabut jenggotnya. Berkata Abu Syamah : “Sungguh telah terjadi pada suatu kaum yang mereka itu mencukur jenggotnya dan kejadian ini lebih parah dari apa-apa yang terdapat pada Majusi (yang mereka itu memendekkan jenggot dan memanjangkan kumisnya) disebabkan mereka mencukur jenggotnya.”Ini pada jaman Abu Syamah rahimahullah, bagaimana seandainya jika beliau melihat masa sekarang (dimana) lebih banyak orang yang melakukannya.Apa yang menimpa mereka? Dilaknati Allah-lah mereka. Maka bagaimana mereka berpaling?Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka mencontoh Rasul-Nya sementara mereka menyelisihinya dan mereka bermaksiat kepadanya. Mereka mencontoh orang-orang Majusi dan orang-orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka agar taat kepada Rasul-Nya dan sungguh telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :ﺃﻋْﻔُﻮ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ“Peliharalah jenggot.”Sementara mereka bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mereka bermaksud dengan sengaja mencukur jenggotnya.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk mencukur kumis, mereka memanjangkannya, mereka melakukan yang sebaliknya. Mereka bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara terang-terangan dengan melakukan apa yang tidak tepat pada tempatnya.Dan yang Allah ‘Azza wa Jalla memperindah dengannya adalah paling mulia dan indahnya sesuatu dari manusia.“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap pekerjaannya yang buruk itu baik (sama dengan orang yang tidak ditipu syaithan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Faathir : 8)Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari butanya hati, kotornya dosa-dosa, kehinaan dunia, dan siksa akhirat.“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar niscaya mereka pasti berpaling juga sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS. Al Anfal : 22-23)Dan dalam hal ini cukuplah bagi orang yang mempunyai hati dan mendengarkan serta dia dalam keadaan menyaksikan.Firman Allah ‘Azza wa Jalla :“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi : 17)ﻭَﺍﷲﹸ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَّﺍﺏﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﷲﹸ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ

Dr HM Hidayat Nur Wahid,MA

Dr HM Hidayat Nur Wahid, MA
Politisi yang Kedepankan Moral dan Dakwah

Nama:Dr HM Hidayat Nur Wahid
Lahir:Klaten 8 April 1960
Agama:Islam
Jabatan:Ketua MPR RI 2004 - 2009, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Isteri:Hj Kastian Indriawati
Pendidikan:Pondok Pesantren Darussalam GontorS1, S2 dan S3 di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
Kantor Pusat PKS Gedung Dakwah KeadilanJl. Mampang Prapatan Raya No 98 D-E-FJakarta - Indonesia
Telp +62-21-7995425Fax +62-21-7995433

Ia politisi, uztad dan cendekiawan yang bergaya lembut. Sosoknya semakin dikenal masyarakat luas setelah ia menjabat Presiden Partai Keadilan (PK), kini menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sejahtera. Dosen STAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tidak pernah bercita-cita jadi politisi. Kepemimpinnya di PK memberi warna tersendiri dalam peta perpolitikan nasional. Ia politisi yang mengedepankan moral dan dakwah. Maka, kalau ada tokoh yang mempunyai massa besar tapi moralitas Islamnya bermasalah, tidak mempunyai tempat di PK. Partai ini lebih memilih menjadi partai yang kecil tapi signifikan ketimbang harus merusak citra Islam hanya dengan dalih vote getter. Bagi PK, dalam berpolitik keberkahan adalah hal yang utama. Kemenangan bukan tujuan PK. ”Itulah sebabnya kalau bukan lantaran pertolongan Allah swt mustahil PK bisa melangkah seperti sekarang. Ini semua bagian dari tadbir rabbani (pengaturan Allah),” kata pria kelahiran Klaten 8 April 1960, yang belakangan juga aktif dalam gerakan menolak perang dan rencana serangan militer Amerika Serikat ke Irak itu.Ia dalam memimpin PK sangat selektif dalam soal kepemimpinan dan kepengurusan. Namun bukan berarti partai ini eksklusif. Karena menurutnya, soal eksklusif atau tidak itu soal persepsi. Sebab, pada tingkat konstituen, PK terbuka terhadap siapa pun, termasuk kalangan nonmuslim. Ia mengakui, dengan menyatakan diri sebagai partai Islam, PK pernah dianggap eksklusif, bahkan sempat dicap fundamentalis. ”Ya, itu bisa eksklusif jika Islam dipahami sebagai sesuatu yang sangat terbatas dan sangat angker. Tapi itu bisa inklusif jika Islam dipahami sebagai sebuah paradigma,” katanya.Sebagai sebuah paradigma, jelasnya, Islam sedikitnya meliputi empat hal. Pertama, al-islam itu sendiri, yakni penyerahan diri kepada Allah Sang Pencipta. Kedua, al-silm, yang berarti kedamaian. Ketiga, al-salam, artinya kesejahteraan. Keempat, al-salamah, yang artinya keamanan atau keselamatan.Itulah nilai-nilai Islam yang berlaku universal. Tapi, menurutnya, yang terpenting memang perilaku kader PK itu sendiri. Apakah mereka bisa bekerjasama secara konstruktif dengan pihak-pihak lain atau tidak. ”Sejauh yang kami lihat, kawan-kawan PK, termasuk yang ada di lembaga perwakilan, umumnya bisa bekerjasama dengan pihak lain dalam membela kebenaran,” kata alumnus Universitas Islam Madinah ini.Dalam rangka memperluas dukungan, pihaknya tidak begitu saja mau menerima orang. Menurutnya, kalau ada organisasi yang begitu saja mudah menerima orang-orang yang biasa disebut `kutu loncat' itu lantaran ia punya massa atau sumber daya dana yang besar, maka itu menunjukkan bahwa organisasi itu gagal dalam kaderisasi dan soliditasnya, apalagi untuk tingkat elit. Dan pada gilirannya organisasi itu akan menjadi mandul. Dalam sebuah partai, menurutnya, ada dua hal yakni massa dan pemimpin. Sama halnya dengan dakwah, kalau partai ini dipimpin oleh orang yang punya massa banyak tapi secara moral bermasalah, misalnya berperilaku maling, maka kita bukan lagi sedang menjalankan Islam tapi malah menipu masyarakat dan perpolitikan kita. Ia menegaskan bahwa partainya tidak mau seperti itu. Karena pada hakekatnya politik PK adalah politik Islam yang asasnya Islam dan visinya dakwah. Karena itu, kalau ada tokoh yang mempunyai massa besar tapi moralitas Islamnya bermasalah, maka PK tidak bisa menerima sebab itu bertentangan dengan ide dasar dari dakwah itu sendiri. Kalau harus berhadapan dengan kondisi itu, PK lebih memilih menjadi partai yang kecil tapi signifikan ketimbang harus merusak citra Islam hanya dengan dalih vote getter. Bagi PK, dalam berpolitik keberkahan adalah hal yang utama. Kemenangan bukan tujuan PK. ”Itulah sebabnya kalau bukan lantaran pertolongan Allah swt mustahil PK bisa melangkah seperti sekarang. Ini semua bagian dari tadbir rabbani (pengaturan Allah),” katanya. Karena itu, PK tidak perlu memasukkan hal-hal yang syubhat seperti tadi, apalagi yang haram, walaupun hal itu bisa mendatangkan kepuasan. Sebab, menurutnya, kalau itu dilakukan juga, maka yakinlah bahwa umur dakwah ini akan sangat pendek. Sebentar saja akan muncul berbagai konflik yang luar biasa, fitnah yang tidak karuan yang pada akhirnya akan mematikan dakwah. Dalam bekerjasama dengan pihak lain, prinsipnya, PK tidak pernah memetakan pihak lain dalam posisi yang selalu benar atau selalu salah. Meski demikian PK selalu melihatnya secara kritis. Karena itu, katanya, PK tidak pernah pilih-pilih untuk bekerja sama, selama itu menyangkut kemaslahatan dan membela kebenaran. Sebaliknya, PK akan selalu tegas menolak, jika itu menyangkut kemudaratan atau upaya mengaburkan kebenaran. Dalam kepemimpinannya, PK selalu tampil simpatik dalam menyikapi berbagai masalah dalam negeri maupun dunia. Termasuk dalam menyikapi konflik antara orang Islam dan non Islam seperti di Maluku, PK tidak bersikap reaktif seperti Laskar Jihad. Juga dalam menyikapi ancaman perang yang dilancarkan AS ke Irak. PK melakukan demo besar-besaran, tetapi sangat tertib dan simpatik. Hal ini didasari pemahaman kader parati ini tentang Islam. “Pemahaman ini menjadi landasan etis bagi kami dalam menyikapi suatu peristiwa dan melakukan dakwah. Di satu sisi, kami memang mencoba memahami bahwa gerakan-gerakan seperti itu merupakan akibat dari akumulasi kekecewaan terhadap kelambanan pemerintah menangani kasus di Maluku. Tapi kami lebih memilih gerakan simpatik. Kami mencoba memberikan kontribusi riil, seperti bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi,” katanya sebagaimana dikutip Tempo. Partai ini juga tidak ikut latah membentuk atau menggerakkan pasukan ataupun satgas seperti dilakukan organisasi dan partai lain. Karena, menurutnya, itu urusan negara, jangan memberi peluang masayarakat sipil untuk berperang. Sebab, akibatnya akan lebih kacau. Islam sendiri jelas-jelas melarang segala bentuk pengrusakan. Jangankan pembinasaan terhadap sesama manusia, pengrusakan tempat ibadah agama lain pun tidak diperbolehkan. Kecuali jika tempat tersebut telah beralih fungsi menjadi tempat makar atau tempat maksiat. Itu pun yang melakukannya tetap harus negara, bukan rakyat sipil. Partai ini lebih memilih mempunyai kepanduan daripada lascar atau satgas. Pandu ini berpakaian biasa, sikapnya pun ramah-ramah. Sebab, ia juga berpandangan bahwa soal keamanan dan ketertiban adalah tugas aparat negara, yakni tentara dan polisi. Maka yang perlu didorong adalah agar tentara dan polisi harus profesional. Tidak perlu ikut merambah ke bidang-bidang lain, misalnya lewat dwifungsi. Semasa kecil, alumnus Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur ini mengaku bercita-cita masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Sayang tidak kesampaian. Namun, justru dari kegagalan itu, dia pergi ke Madinah, Arab Saudi, untuk menimba ilmu di Universitas Islam Madinah.Tidak tanggung-tanggung, selama 13 tahun, suami Hj Kastian Indriawati yang telah dikaruniai dua orang putri dan empat orang putra itu menimba ilmu keislaman di bumi tempat Rasullulah SAW dimakamkan. Sepulang dari tanah suci, ia aktif dalam berbagai kegiatan dakwah sebelum terjun di dunia politik tahun 1999 lalu.Ia tak pernah menargetkan atau memprogramkan mau jadi apapun, termasuk menjadi ketua partai. Ia mengaku menjalani hidup dengan mengalir begitu saja dengan penuh tawakal. ”Dan Alhamdulillah hidup saya berjalan dengan lancar,” katanya kepada Republika. Sepanjang pengalaman pribadinya, ia merasa Allah membimbing dan memberikan yang terbaik buatnya. Ini yang membuatnya semakin yakin bahwa Allah itu Mahabijak, Mahakuasa dan takdir itu memang ada.Termasuk memilih sekolah setelah lulus SD. Ia sendiri tidak pernah berpikir, berangan-angan untuk masuk ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Ia dimasukkan ayahnya ke Gontor karena banyak saudaranya yang sekolah di sana. Dan, Alhamdulillah, selama mengenyam pendidikan di Gontor, ia selalu ranking pertama atau kedua.Kemudian ia melanjutkan studi ke Madinah. Sama seperti masuknya ke Gontor, ia pun tidak pernah berpikir untuk kuliah di luar negeri, Timur Tengah atau Madinah. Ia justru berkeinginan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran UGM yang memang menjadi favorit bagi anak-anak seusianya di SMA. Apalagi, di Gontor, anak-anak dididik dan didorong untuk melakukan terobosan.Tapi sewaktu ia lulus, ia dipanggil kyai dan diberi ijazah, ada seorang kawan yang bilang bahwa mubadzir kalau ijazah dari Gontor hanya untuk meneruskan studi di dalam negeri. Lalu si kawan itu mengusahakan agar ia sekolah ke luar negeri. Akhirnya ia kuliah di Universitas Islam Madinah. Padahal sampai saat itu ia belum punya keinginan untuk ke luar negeri. Setelah selesai S-1, ia pun tidak terpikir untuk melanjutkan ke S-2. Tapi tiba-tiba namanya masuk nominasi untuk ikut ujian S-2. Hari itu ia dapat informasi dari orang lain dan hari itu juga ia harus menempuh ujiannya. Dan tenyata alhamdulillah lulus. Ketika masuk S-3 pun ia tidak punya niat sama sekali. Dosen pembimbingnya yang agak memaksa supaya ia mengambil peluang S-3 yang diberikannya. Padahal waktu itu, ia sudah ngotot untuk pulang ke Indonesia untuk berdakwah. ”Begitulah hidup saya bergulir tanpa terencana sampai akhirnya hampir tiga belas tahun saya tinggal di Madinah. Ketika bikin partai pun saya tidak pernah terpikir sama sekali sebelumnya. Pokoknya mengalir begitu saja,”kata politisi yang bercita-cita jadi penuli itu. Kesibukannya di partai tentu menyita waktu yang biasanya ia gunakan untuk keluarga. Tapi ia merasa diuntungkan oleh keluarganya. ”Istri saya adalah tamatan Mu'allimat Yogya yang mantan aktivis organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyyah di tingkat nasional. Sehingga sedikit banyak manajemen keluarga kami bisa lebih teratur,” kata pria yang sebelumnya tidak pernah bercita-cita menjadi politisi ini. Tapi meski begitu, ia berusaha berlaku adil karena bagaimana pun segala sesuatu punya hak, apalagi keluarga. ”Dan insya Allah saya akan tetap berkomitmen untuk membina keluarga serta di sisi lain mengurus dakwah di partai, karena keduanya merupakan hal yang saling melengkapi bukan saling menafikan,” katanya, lalu menjelaskan mengapa ia memilih tinggal dekat dengan Islamic Centre Iqro. Tak lain adalah agar kontrol terhadap anak-anak juga berlangsung lebih baik karena lingkungan itu memang sudah cukup terkondisikan dengan baik.Latarbelakang kehidupan keluarganya juga sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Di kampung kelahirannya, keluarganya memang termasuk keluarga pemuka agama. Kakeknya bahkan merupakan tokoh Muhammadiyyah di Prambanan. Ayahnya juga pengurus Muhammadiyyah, dan ibunya aktivis Aisyiah. Namun, ayah dan ibunya tidak pernah secara khusus memaksakannya untuk masuk Muhammadiyyah. Malah ia aktif di Yayasan Alumni Timur Tengah yang banyak orang NU-nya. Jadi kini ia bukan NU dan bukan Muhammadiyah. Ia memang tumbuh dalam keluarga yang aktif berorganisasi. Mungkin karena itu, di Pesantren Modern Gontor, di samping menjadi pengurus OSIS, Hidayat pun anggota PII (Pelajar Isalam Indonesia). Ketika melanjutkan sekolah di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, ia pun sempat menjadi ketua perhimpunan mahasiswa asal Indonesia. Dan ia terpaksa berurusan dengan KBRI setempat, karena mahasiswa satu ini mempersoalkan "Asas Tunggal" dan Penataran P-4. Selain itu, latar belakang keluarga besarnya juga kebanyakan guru. Karenanya sejak kecil ia sudah terbiasa dengan lingkungan buku. Sejak kecil ia sudah terbiasa mengkhatamkan novel silat Ko Ping Ho dan komik-komik Jawa. Hikmahnya, ia jadi punya hobi membaca. Hingga sekarang, ia tetap membiasakan diri membaca. ”Untuk sekarang karena terlalu sibuk tidak penting berapa banyak yang saya baca dalam sehari, yang jelas setiap hari harus ada buku yang saya baca,” katanya. Ia sering menerima tamu di perpustakaan pribadinya yang berada di lantai dua rumahnya. Dosen Pasca Sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah ini memang tergolong kutu buku. Ada sekitar lima lemari besar penuh buku di ruang perpustakaannya, baik yang berbahasa Arab maupun berbahasa Indonesia. Sebagian besar merupakan `oleh-oleh' dari studinya di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, yang ia tempuh dari jenjang sarjana (S-1) hingga doktor (S-3).Ia terpilih jadi Presiden Partai Keadilan (PK) dalam Munas I menggantikan Dr.Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, MSc yang memilih mundur untuk tetap sebagai PNS. Pemilihan itu berlangsung lancar dan dalam suasana yang sejuk. Tidak seperti pemilihan ketua beberapa partai yang berlangsung panas dan penuh intrik.Sejak awal Munas nama Hidayat memang sudah masuk dalam daftar nominasi. Maka tidak mengherankan bila dalam sidang Majelis Syuro PK ia terpilih dengan mengantongi suara lebih dari 50% pemilih. Meski demikian, tak nampak eskpresi kemenangan yang terpancar di wajahnya begitu ia dinyatakan sebagai Presiden PK terpilih.Di kalangan PK sendiri, ia disegani. Ia, dalam "embrio" PK, adalah Ketua Dewan Pendiri. Waktu partai itu akan dideklarasikan, ia sebenarnya nyaris didaulat untuk menduduki kursi presiden partai. Namun, ia menolak. Karena dia merasa belum saatnya menduduki posisi itu. Namun, dalam kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat PK sebelumnya, ustad ini tak dapat menolak permintaan untuk menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) sekaligus Ketua Dewan Syariah – dua jabatan berada di atas jabatan presiden. Ia mengaku tidak pernah bermimpi akan dipilih oleh rekan-rekan untuk menjadi Presiden PK. Karena itu, ia tidak mempunyai perasaan gembira (berlebihan) atas terpilihnya menjadi Presiden PK. Baginya, ini adalah amanat yang sangat berat. Dan amanat ini bukan hanya harus ia pertanggungjawabkan pada Munas PK lima tahun mendatang, tetapi juga kepada masyarakat Indonesia serta di hadapan Allah swt.Karena itu, kepada para aktivis dan simpatisan PK, ia berharap agar dibantu dan didoakan untuk dapat menjalankan amanat itu dengan baik, yang segera diaminkan para peserta Munas. Pada keesokan harinya, usai shalat shubuh di Masjid Al Qalam Kompleks Islamic Center “Iqra” Pondok Gede, seorang ustadz memimpin doa bersama agar Allah memberikan bimbingan dan pertolongan kepadanya untuk memimpin PK. Suasananya ketika itu begitu haru. Sehingga matanya nampak berkaca-kaca, lalu terdengar isak tangisnya mengiringi lantunan doa yang mengalir khusyu' itu. Usai berdoa seluruh jamaah merangkulnya bergantian, sebagai pertanda dukungan kepadanya. Kali ini suasana sudah berganti dengan kehangatan dan keakraban.Dalam sambutan saat jumpa pers setelah terpilih menjadi Presiden PK, ia pun kembali mengatakan bahwa jabatan itu merupakan amanah yang tidak ringan. Kalau boleh dikatakan, tantangan yang terberat. Ia merinci tantangan dimaksud. Pertama, masalah pencitraan. Ini suatu hal yang sangat penting. Sebab kadang-kadang orang hanya dari citra saja sudah mengambil sikap. PK misalnya dicitrakan sebagai partainya anak muda, partainya orang-orang yang tidak merokok atau juga partainya orang yang berjilbab. Pencitraan ini di satu sisi positif yakni segmentasi di dalam PK menjadi jelas. Tapi kemudian dalam konteks dakwah ini menjadi tidak tepat, sebab dasar dakwah ialah Yaa ayyuhannaas, berlaku kepada seluruh segmen masyarakat, apapun kondisi mereka. Tapi pencitraan tadi akhirnya menghambat pelebaran dakwah, sebab nilai-nilai dakwah PK seolah-olah terkungkung hanya pada segmen yang terbatas. ”Ini harus kita atasi,” tegasnya. Kedua, seperti tergambar dari pandangan DPW-DPW dan utusan luar negeri, yakni faktor konsolidasi internal. Memang banyak pihak yang menilai sangat positif. Misalnya ketika saya ke Riyadh bersama Profesor Nurcholish Madjid, dia ditanya tentang PK. Kemudian beliau menjawab dengan mengambil pendapat dari pandangan Prof. Miriam Budiardjo bahwa PK itu partai orang-orang terpelajar. Tapi sesungguhnya kami sendiri melihat bahwa masih banyak celah yang harus kami konsolidasikan lagi. Ketiga adalah faktor sosialiasi dan komunikasi massa. Banyak orang yang menilai bahwa setelah Pak Nur jadi menteri seolah-olah PK tiarap. Padahal tidak begitu. Karenanya kami harus menjalin lagi komunikasi yang lebih baik dengan kawan-kawan pers dan siapapun yang punya akses massa. Keempat, bagaimanapun juga karena kami sudah terjun dalam kancah partai politik, orang tidak lagi memaklumi hal-hal yang riil. Mereka menuntut bahwa partai ini harus besar. Padahal PK ini baru sama sekali. Tentu saja ini merupakan satu masalah sehingga ke depan kami harus melakukan pengkaderan yang masif dan terus-menerus. Targetnya sampai nilai-nilai dakwah menjadi dominan di masyarakat. Seperti yang sering ia katakan, “Bahkan seandainya Anda tidak masuk ke PK sekalipun, tapi Anda mendukung, menegakkan dan melaksanakan keadilan, yang itu berarti Anda mengamalkan Islam, maka Anda sesungguhnya sudah menjadi bagian dari kami.” Tapi tentu saja agar nilai-nilai itu bisa semakin luas, maka mau tidak mau yang memperjuangkannya harus semakin banyak. Komitmen ini sudah dimulai. Begitu Munas selesai bagian kaderasi langsung berkumpul dengan seluruh jajarannya untuk melakukan kegiatan pengkaderan. Sehingga ada ungkapan, “Munas selesai, kegiatan kaderisasi jalan terus.” Kelima, adalah masalah finansial. Bagaimanapun kegiatan partai adalah massal dan harus terpogram secara profesional. Untuk itu kami harus memikirkan bagaimana agar bisa memiliki sumber finansial yang mandiri. Meski begitu sejak awal kami punya keyakinan bahwa aktivitas ini juga adalah aktivitas dakwah yang kewajibannya bersifat individual, sehingga para individu itu juga berkewajiban membiayai dakwah ini. Perihal latarbelakang atau tradisi politik yang dijalankan PK, menurutnya, pada tingkat tertentu Cak Nur benar ketika menilai PK dalam buku `Tujuh Mesin Pendulang Suara'. ”Tradisi yang kami jalani itu sangat terkait dengan latar belakang kami yang relatif seragam secara pemikiran yakni pemikiran yang mengacu kepada semangat dakwah meskipun dari segi pendidikan kami sangat beragam sekali, ada yang dari Barat, Timur Tengah dan lain-lain.” Partai ini diuntungkan oleh keadaan beberapa anggota yang kebanyakan adalah orang yang memiliki kafaah, kompetensi syariah yang memadai. Banyak dari mereka yang tamat S3 dari Mesir, Saudi, Pakistan, Malaysia sehingga mereka memiliki kemampuan untuk merujuk secara mendalam kepada literatur-literatur klasik pemikiran Islam, termasuk pemikiran politik. Mereka juga banyak menyerap berbagai pemikiran politik dari berbagai gerakan Islam kontemporer seperti Ikhwanul Muslimun, Salafiyyah, Refah, Jama'at Islami, PAS dan lain-lain. Selama ini ummat Islam seolah-olah hanya memiliki rujukan politik kontemporer dari Barat saja yang diakui sudah banyak gagal dan tercemar. Padahal kalau kita merujuk kepada Qur'an dan Sirah Rasulullah secara luas dan mendalam, kita memiliki rujukan yang komprehensif. Maka ia sangat optimis, PK yang kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan memperoleh kenaikan suara yang signifikan pada Pemilu 2004. Partai yang sempat diisukan akan bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) ini menampakkan sosok yang berbeda dengan beberapa organisasi dalam mengkonsolidasi diri. Hal ini, antara lain, terlihat dari beberapa kali aktivitasnya dalam demonstrasi yang selalu berlangsung damai dan tertib kendati dihadiri ratusan ribu orang.Perihal kemungkinan kerjasama dengan partai lain, ia mengatakan seperti tergambar dalam gagasan keadilan yang disebutkan Qur'an surat al-Maidah ayat 8, semangat pembelaan kebenaran harus diberlakukan dengan non Islam sekalipun. Maka, katanya, dalam konteks hubungan kami dengan di luar PK, selama mereka bisa sesuai dengan visi PK maka tidak masalah kita bekerjasama. Begitu pula tentang kemungkinan bergabung dengan sesama partai Islam, ia berpegang pada komitmen bahwa PK adalah partai yang berusaha mengutamakan wihdatul ummah (persatuan ummat). ”Makanya kami setuju dengan ide satu partai saja untuk ummat Islam. Tapi pada saat yang sama kita juga harus realistis dalam memandang Islam itu sendiri sebab Islam itu tidaklah menafikan kelompok yang banyak,” ujarnya. Innaa Kholaqnaakum min dzakarin wa untsaa waja'alnaakum syu'uuban wa qobaailan lita'aarafuu. Biarkanlah kemajemukan itu tetap ada, tapi itu semua tidak didikotomikan melainkan disinergikan untuk mencapai ketakwaan. Innaa akramakum `indallaahi atqokum.Dalam hal ini, bersatunya ummat Islam dalam satu partai tidak menjamin kemenangannya. Lihat saja pada masa Orde Baru PPP selalu kalah. Jadi logika bersatu adalah menang untuk konteks partai Islam tidak selalu benar. Namun, menurutnya, jangan menganalogikan banyaknya partai Islam itu seperti sekoci-sekoci kecil yang tidak bisa saling bersinergi. Melainkan, ia menganalogikannya sebagai semut-semut kecil yang bisa bekerja sama membangun sinergi. Dengan begitu, katanya, PK justru tetap menjadikan persatuan ummat sebagai muatan ideologinya.Perihal pertimbangan yang paling signifikan bergabungnya PK dengan PAN dalam Fraksi Reformasi, karena pada saat itu dalam upaya menegakkan visi reformasi dan demokrasi dengan meminimalisasikan peran militer di DPR. “Kita kan tahu pimpinan MPR diberikan kepada lima fraksi terbesar. Sementara saat itu urutan kelima adalah Fraksi TNI/Polri dengan 38 kursi, di atas PAN yang cuma 34 kursi dan menempati urutan keenam. Maka kalau kami yang memiliki 7 kursi bergabung dengan PAN berarti suaranya bisa mencapai 41. Ini sudah cukup untuk menggeser posisi TNI/Polri sehingga peran mereka pun semakin kecil, yakni dengan tidak menjadi pimpinan DPR. Akhirnya yang jadi wakil ketua DPR kan Pak AM Fatwa,” jelasnya. Sementara, mengenai adanya tadzkirah (peringatan) pada saat Munas bagi para kader PK supaya tidak larut ketika berinteraksi dengan masyarakat, ia menjelaskan bahwa tadzkirah itu bermanfaat untuk orang mu'min. Fainnadz dzikra tanfa'ul mu'minin. Meski begitu, bukan berarti tadzkirah itu terkait dengan keadaan, tapi bisa merupakan tindakan preventif. ”Kami sadar PK adalah kumpulan manusia yang tidak selalu benar. Sehingga taushiyyah semacam itu tetap kami perlukan. Jangan dikira pendukung PK itu sama semua tingkat keimanannya,” katanya. ”Dalam hal ini ada kaidah yang disampaikan Sayid Qutub bahwa generasi Qur'an salah satu cirinya adalah yakhtalituun walakin yatamaayazzuun, mereka berinteraksi dengan masyarakat tapi mereka tidak larut dengan berbagai kebiasaan buruk masyarakat. Bahkan mereka muncul cemerlang dan berbeda di tengah masyarakat dalam hal sikap dan penampilannya yakni selalu berpegang dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran,” jelas pengajar dan pengurus Yayasan Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam Al Haramain ini. Aktivitasnya di yayasan tersebut tidak ditinggalkan kendati ia sudah sangat sibuk di partai. ”Karena Al Haramain sudah menjadi bagian dari jati diri saya, yakni yang terkait dengan studi Islam dan pelayanan terhadap pesantren,” katanya. Bahkan mungkin pola Al Haramain itulah yang menjadi pola kepemimpinannya sebagai Presiden PK. Artinya kepeduliannya terhadap studi Islam, pendidikan dan pesantren diharapkan menjadi bagian dari aktivitas politiknya. “Karena toh tidak ada bedanya, ini kan sama-sama dakwah juga,” kilahnya. Memang banyak orang yang menganggap bahwa lahirnya PK itu dibidani oleh Yayasan Al Haramain dan Sidik (Studi dan Informasi untuk Dunia Islam Kontemporer). Menurutnya, hal itu memang tidak bisa dibantah sekalipun tidak mutlak begitu. Namun, sebetulnya PK bukan didirikan oleh lembaga-lembaga itu tapi oleh orang-orang yang berkiprah di dalamnya. Bahkan bukan hanya oleh orang-orang dari dua organisasi itu tapi oleh beberapa organisasi lainnya lagi yakni ISTEC. Kalau boleh diformulasikan yang dari Al Haramain adalah para alumni Timur Tengah, yang dari ISTEC adalah para alumni dari Barat dan yang dari Sidik adalah para aktivis dakwah dari Indonesia. Ada juga dari lembaga pendidikan Nurul Fikri dan Yayasan Ibu Harapan pimpinan Ibu Yoyoh Yusroh. Perpaduan ini terlihat sangat manis dan sinergis, meskipun lembaga-lembaga itu tidak menjadi underbouw PK. Mereka tetap independen. Al Haramain sebagai cikal bakal PK pernah menerbitkan jurnal Ma'rifah sebagai counter terhadap pemikiran pembaharuan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan jurnal Ulumul Quran-nya. Namun saat ini antara aktivis PK dan Cak Nur kelihatan sudah berbaik-baikan, terlihat dari dukungan Cak Nur terhadap PK. Menurutnya, memang dulu terjadi polemik yang tajam mengenai pemikiran Islam antara kedua jurnal yang sekarang sudah sama-sama almarhum itu. Tapi apa yang berlaku pada mereka hingga saat ini pun tidak berubah seperti yang menjadi sikap mereka dalam jurnal Ma'rifah itu. Apalagi, katanya, sekarang ini tidak ada lagi wacana yang mengangkat ide-ide kontroversial dari kalangan pembaharuan pemikiran Islam, khususnya Cak Nur. Dalam suatu siaran pers, ia pernah menyatakan, tanpa perlu terjebak pada stigma dan dikotomi oposisi atau berpartisipasi, PK harus tetap menjadi kekuatan untuk beramar makruf nahi munkar. Hal itu dikemukakannya karena sekarang ini, banyak politisi--juga pers--yang terjebak pada wacana tuntutan menjadi oposisi. Padahal, dalam konteks sekarang, konsep oposisi itu belum tentu dipahami mayoritas rakyat. Ketika elite politik atau pakar menyerukan oposisi, pengikutnya di bawah mungkin akan mengartikannya sebagai seruan untuk terus-terusan demonstrasi. Demikian pula dengan pemerintahnya. Ketika ada yang menyerukan oposisi, ini bisa diangap sebagai upaya menggoyang pemerintah yang sah.UU PemiluDalam pandangannya UU Pemilu & Parpol mempunyai dua kelemahan utama. Dari sisi reformasi, dua UU ini dapat menghadirkan sebuah pemilu atau suatu partai politik yang justru tidak reformis. Undang-undang ini melakukan pembatasan yang luar biasa berat bagi partai-partai politik baru yang tampil.Misalnya, dalam UU Partai Politik dinyatakan partai politik untuk ikut pemilu harus mempunyai pengurus di 2/3 propinsi, di 2/3 kabupaten, di 2/3 kecamatan dan di masing-masing kabupaten harus dibuktikan dengan kartu tanda anggota 1000 orang.Ia juga tidak sependapat dengan ketentuan electoral threshold. Ia mengajukan sebuah alternatif yakni parlemen threshold. Menurutnya, electoral threshold ini sekarang adalah suatu kesalahkaprahan. Karena yang dipakai prosentasenya adalah parlemen threshold. Yang saya pahami, electoral threshold itu seharusnya yang dipakai ukuran suatu partai mendapat 2 % atau tidak itu dari jumlah suara pemilih. Bukan jumlah kursi yang didapatkan. Kalau yang dipakai jumlah kursi yang didapat itu berarti parlemen treshold bukan electoral treshold. Dan bila yang dipakai adalah jumlah suara yang didapatkan, sesungguhnya partai yang mencapai 2 % hanya 5, bukan 6.Sementara mengenai banyaknya anggota dewan yang malas dan sering mangkir, ia menganggap para anggota dewan sekarang itu tidak bersyukur. Mereka enak-enakan menjadi anggota dewan atas darah dan air mata, dan keringat para mahasiswa serta para reformis yang lain. Harusnya, mereka itu sungguh berjiwa reformis. Tidak malah mangkir. Kalau datang pun hanya tidur. Dari situlah muncul usulan kenapa tidak di-recall saja?Tetapi kalau lembaga recall dimunculkan dan itu dilakukan oleh partai, berarti akan memunculkan suasana piramid semasa orde baru, dimana seorang anggota dewan bila tidak disukai oleh partainya dia akan di recall. Ini juga tidak demokratis dan tidak reformis.Ia mengusulkan jalan tengah, harus ada koreksi terhadap anggota dewan yang bermasalah itu melalui mekanisme recall oleh rakyat yang memilih melalui usulan yang disampaikan pada dewan kehormatan DPR. Dewan kehormatan DPR menilai kondite dari masing-masing anggota dewan kalau bermasalah. Kemudian disampaikan ke kostituen pemilihnya. Kalau rakyat mengatakan tidak puas, ya perlu di recall. Yang merecall rakyat berdasarkan rekomendasi dari Dewan Kehormatan DPR.Lelaki 40 tahunan ini tak berubah dari watak aslinya meski berada di pucuk pimpinan partai. Pria yang dikenal berpenampilan sederhana dan ramah, ini masih saja ikut bermain sepak bola bersama masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Lagi pula tidak satu atau dua kali tetapi menjadi kegiatan rutin. Ia kelihatan sangat menikmati sepak bola itu. Sehingga setiap hari Ahad pagi nyaris tidak pernah dilewatkan untuk bermain bola dengan anak-anak muda di kawasan tempat tinggalnya, Komplek Iqra', Jatimakmur Pondok Gede. Usia yang terpaut sepuluh tahun bahkan lebih dengan pemain lainnya tidak menyebabkannya canggung.“Ini murni olahraga, tidak ada kaitannya dengan usaha merekrut orang menjadi anggota Partai Keadilan. Namun kalau mereka akhirnya tertarik ya syukur, ha.. ha.. ha..,” guraunya ketika diolok bakal mempolitisasi olahraga. Baginya, olahraga tidak sekedar kagiatan fisik belaka. “Tapi bagian dari sunnah, yakni menjaga kesehatan fisik. Nabi saja tangguh dalam berkuda, memanah dan gulat,” katanya.Motivasi itulah yang menyebabkannya tidak pernah lepas dari olaharaga. Karenanya ia menganjurkan setiap muslim membiasakan diri rutin berolahraga, apapun bentuknya. “Kebetulan hobi saya sepak bola, jadi olahraganya main sepak bola,” aku Hidayat yang tetap main sepak bola meskipun sedang kuliah di luar negeri, Madinah. Selain sepak bola ia juga rutin bermain bulutangkis. Setiap minggu malam nyaris tidak pernah dilewatkan untuk bermain bulutangkis bersama jamaah masjid Al Qalam Pondok Gede. Mereka menyewa gedung serba guna secara patungan. “Biar patungan yang penting sehat.” tambahnya. Ia masih kuat main selama lima set non stop. Menurut pengakuannya, dengan rutin berolahraga stamina kerja seseorang menjadi meningkat. “Sebab aliran darah ke seluruh tubuh menjadi lancar.” Ia merasakan olahraga semakin penting ketika terjun mengurus partai politik. Karena politik juga memerlukan stamina fisik yang prima. Apalagi ketika menghadapi berbagai macam isu politik. Misalnya ketika partai yang dipimpinnya, diisukan oleh sejumlah kalangan sebagai partai yang menolak Piagam Jakarta. Serta masih banyak isu politik lainnya.

HUKUM ROKOK

Ajaran Islam mengandung pilar-pilar kemaslahatan duniawi & ukhrawi, yang selama ini sedang dikembangkan dan senantiasa dipupuk secara berkesinambungan. Di antaranya adalah berusaha belajar untuk tidak merokok. Karena di samping merokok itu merugikan diri sendiri dan orang lain, juga berakibat jauhnya Ridha Allah, disebabkan tidak selaras dengan firman Allah Ta’ala yang mengatakan:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu”. (An Nisa’:29).
Dan lagi firmanNya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Al Baqarah: 195)
Dalam kitab Bughiyyatul Mustarsyidin : 260 disebutkan suatu hadits:
قال الـنَّبي ص.م: يَا أَبـَا هُريْرَة يَأْتيْ أَقْوَامٌ فيْ أخر الزمَان يُدَاوَمُوْنَ هذا الدخَانَ وَهُمْ يَقوْلوْنَ نحنُ منْ أمَّة مُحَمَّد ص.م: وَليْسُوْا منْ أمَّتيْ وَلا أقوْل لهمْ أمَّة لكنَّهُمْ منَ السُّوَام. قال أَبوْ هُرَيْرَةَ وَسَأَلته صَلى الله عَليْه وَسَلمَ: كيْفَ نبت؟ قال أَنه نبت منْ بَوْل إبْليْسَ فهَل يَسْتوى الإيـْمَان فيْ قلب مَنْ يَّشْرَبُ بَوْل الشَّيْطان, وَلعَنَ مَنْ غرَسَهَا وَنـقلـهَا وَباعَهَا قال عَليْه الصَّلاةُ وَالسَّلامُ يَدْخُلهُمُ الله النَّارَ وَأَنهَا شَجَرةٌ خَبيْثـة.
Telah bersabda Nabi SAW: "Wahai Abu Hurairah akan datang beberapa kaum diakhir zaman yang mengekalkan menghisap rokok (pohon tembakau ini) dan mereka berkata: kami sekalian termasuk sebagian umat Muhammad SAW, dan padahal mereka bukanlah termasuk daripada umatku dan aku tidak mengakui mereka sebagai umat, tetapi mereka itu merupakan sebagian umat yang liar. Berkata Abu Hurairah: "Aku bertanya kepada Nabi SAW dari apakah tumbuhnya?. Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya tembakau itu tumbuh dari kencing iblis. Apakah tetap iman di hati seseorang yang menghisap kencing setan? maka di laknat orang yang menanamnya, yang memindahkannya, dan yang menjual belikannya. Telah bersabda nabi SAW Allah akan memasukan mereka kedalam api neraka Bahwasanya pohon tembakau itu pohon yang keji.”

Tersebut pula dalam kitab Fawa-idul Makiyyah, dijelaskan bahwa sebab-sebab rokok diharamkan antara lain:

1. Memabukkan dan membahayakan
Makanan dan minuman yang menyebabkan mabuk / membahayakan akal atau badan maka haram hukumnya. Sudah hal yang maklum, adanya tembakau itu membahayakan pada akal dan badan sebagaimana yang dikatakan oleh para dokter. (lihat: Irsyadur Rofiq hal: 63)

2. Menyia-nyiakan harta dan memubadzirkannya
Tidak ada perbedaan di dalam haramnya menyia-nyiakan harta, baik dengan cara membuangnya ke lautan, membakarnya atau hal-hal lain yang dapat merusaknya.
Dalam surat Al Isra’ ayat 27 dikatakan:
إنَّ الـمُبَذرْين كانُوْا إخْوَانَ الشَّيَاطيْنَ وَكانَ الشَّيْطانُ لرَبّه كـفُوْرًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan, dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

3. Menganggap kotor baunya / baunya tidak enak
Sebab perkara yang kotor akan menyebabkan rasa sakit dan akan menyakiti badan. Dan surat Al A’raf ayat 157 Allah Ta’ala berfirman:
وَيـُحل لهمُ الطيّبَات وَيُحَرّمُ عَليْهمُ الخبَائثَ.
“Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik ddan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”.

4. Menyakiti orang lain dengan sebab bau yang tidak enak
Asap itu akan memenuhi mulut si perokok bahkan seluruh badannya berbau tidak enak sehingga akan mengganggu (merasa tersakiti) orang yang ada di sampingnya, padahal jelas-jelas Syar’i (Allah & RasulNya) telah melarang menyakiti makhluk.

5. Berlebih-lebihan
Al Quran surat Al A’raf ayat 31 mengatakan:
كُلوْا وَاشْرَبُوْا وَلا تسْرفوْا إنَّ الله لا يُـحبُّ الـمُسْرفيْنَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan (jangan melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

6. Melalaikan akan dzikir kepada Allah Ta’ala
Al Quran surat Al Munafiqun ayat 9 mengatakan:
يَآ أيُّهَا الذيْنَ أمَنُوْا لا تلهكمْ أمْوَالكمْ وَلا أوْلادَكمْ عَنْ ذكر الله وَمَنْ يَفعَل ذلكَ فأولئكَ هُمُ الـخاسرُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka termasuk orang-orang yang rugi”.

7. Sangat dikhawatirkan Su-ul Khatimah (jelek di akhir hayatnya)
Tersebut dalam kitab Tuhfatul Mardhiyyah: 98
أَمَّا شُرْبهُ فيْ مَجْلس القرْأن وَالعلم فهُوَ حَرَامٌ وَصَاحبُ القرَاءَة لا يُؤْجَرُ بَل يُؤْزرُ وَلا يـُجْبَرُ وَيعْزَل وَلا يُنْصَرُ هُوَ وَجُلسَاؤُهُ وَصَاحبُ البَيْت أَشَدُّ إثـمًا وَحَسْرَةً وَندَامَة يَوْمَ القيَامَة منْ حَيْثُ أَنه تهَاوُنٌ بكلام الله القديْم وَلم يَنْهَ عَنْ هذَا الوزر العَظيْم.
"Adapun menghisap rokok di majelis ilmu itu hukumnya haram. Dan bagi orang yang membacanya tidak diberi pahala melainkan disiksa, tidak dimuliakan melainkan dihinakan dan tidak ditolongnya beserta orang yang semajelisnya. Dan orang yang empunya rumah lebih berat dosanya, kesengsaraan dan penyesalan pada hari kiamat. Oleh karena dia telah menganggap enteng dengan kalamullah yang Qodim dan tidak bisa menghindarkan dari pada dosa besar.”
Diskusi dan musyawarah Ulama Idrisiyyah dari Jawa dan Sumatera yang diadakan pada tanggal 27 – 30 November 1976 di Pesantren Fadris Pagendingan menghasilkan keputusan (Fatwa) bahwa hukum merokok adalah haram.

Dasar rujukan kitab-kitab yang menyebabkan diharamkannya merokok adalah:
1. Ash-habul Kalam, hal. 82
2. Bisyrul Karim, hal. 138
3. Bughyatul Mustarsyidin, hal. 260
4. Bulughul Maram,
5. Hasyiyah Syarqawi ‘ala Tahrir, jilid I, hal. 88
6. Iqna’ Bijirami, hal 31
7. Safinatun Naja, hal. 118
8. Tahzibul Furu’, juz I, hal 221.

100 LANGKAH MENUJU KESEMPURNAAN IMAN

1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi.
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
36. Jangan percaya ramalan manusia(peramal/dukun dll);
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyak silaturahmi;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya;
49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintai keluarga Nabi saw;
58. Jangan terlalu banyak hutang;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara.
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna,
62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi.
67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab.
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. 76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita.
77. Jangan membuka aib orang lain
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita.
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana.
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan.
81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya.
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara.
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain.
84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara.
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa. >
86. Hargai prestasi dan pemberian orang.
87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan.
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita.
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu.
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana.
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai -pandailah untuk melupakan jasa kita.
93. Jangan yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina.
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya.
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban.
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri.
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan, Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan.
100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang.

The Seven Habits of Highly Effective People

The Seven Habits of Highly Effective People by Stephen R. Covey is still on the bestseller lists having sold some fifteen million copies. And, people want to know more about Covey's The Seven Habits of Highly Effective People. So, we decided to review The Seven Habits of Highly Effective People in more detail.
Borrowing slightly from the concepts of Quantum Mechanics, The Seven Habits of Highly Effective People begins with the astute observation that people perceive the world differently, and because we view the world with our own unique "lens," it is difficult to separate the observation from the observer.
Covey says that we all have our own paradigm, which is our own map of how we perceive the world and how we think the world should be in our ideal view. Covey writes, "The way we see things is the source of the way we think and the way we act."
Covey goes on to explain: "...[T]hese paradigms are the source of our attitudes and behaviors. We cannot act with integrity outside of them. We simply cannot maintain wholeness if we talk and walk differently than we see. ... To try to change outward attitudes and behaviors does very little good in the long run if we fail to examine the basic paradigms from which those attitudes and behaviors flow."
So, part of achieving insight involves making a "paradigm shift" which causes us to perceive things differently. Covey notes that life threatening experiences or a major role change in a person's life can change a person's paradigm. Sometimes, just a little more knowledge might help us examine our paradigms.
Covey says that although many people want to be effective in their lives and achieve certain goals or dreams, they are unwilling to honestly examine their own paradigms. They are unwilling to look at the way they look at things.
Among his many examples, Covey tells the story of a manager who has taken management training classes and seminars and who is friendly to his employees. Yet, he doesn't feel that his employees have any loyalty toward him. He feels they lack independence and responsibility. If he took a day off, he believes his employees would goof off and stand around the water cooler talking all day.
Covey suggests the manager ask himself, "But is it possible that under that apparent disloyal behavior, these employees question whether I really act in their best interest? Do they feel like I'm treating them as mechanical objects? ..."
Our paradigms will affect how we interact with others, which in turn will affect how they interact with us. So, Covey argues, any effective self-help program must begin with an "inside-out" approach, rather than looking at our problems as "being out there" (an inside-out approach). We must start by examining our own character, paradigms, and motives.
Covey writes that the inside-out approach says "[I]f you want to have a happy marriage, be the kind of person who generates positive energy and sidesteps negative energy rather than empowering it. If you want to have a more pleasant, cooperative teenager, be a more understanding, empathic, consistent, loving parent. If you want to have more freedom, more latitude in your job, be a more responsible, a more helpful, a more contributing employee. If you want to be trusted, be trustworthy. If you want the secondary greatness of recognized talent, focus first on primary greatness of character."
Hence, character and principles are keys to success, effectiveness, and happiness in life. The Seven Habits of Highly Effective People points out: "Principles are guidelines for human conduct that are proven to have enduring, permanent value. ...One way to quickly grasp the self-evident nature of principles is to simply consider the absurdity of attempting to live an effective life based on their opposites. I doubt that anyone would seriously consider unfairness, deceit, baseness, uselessness, mediocrity, or degeneration to be a solid foundation for lasting happiness and success."
After discussing the importance of character, The Seven Habits of Highly Effective People jumps into the habits you should work toward creating as a part of your life. The first three habits, Covey says, are habits of independence. They will help you achieve a private victory of being more personally effective and independent.
Stephen Covey's Habits of Independence:
Habit 1: Be Proactive
Covey says you must use your resourcefulness and your initiative to work toward your personal goals. In particular, each person has both a circle of influence and a circle of concern. Worrying endlessly about things outside of your circle of influence isn't particularly productive. Working within your circle of influence is productive. Further, the more effective you become, the more your circle of influence will expand.
Habit 2: Begin with the End in Mind
Covey starts with the extreme example of considering your death. What do you want people to say about you at your funeral? How will you be remembered? Note to budding, self-help writers: Leave the funeral spiel out. It's not particularly motivating!
Covey says that many people climb the ladder of success only to find the ladder was leaning against the wrong wall. He writes, "We may be very busy, we may be very efficient, but we will also be truly effective only when we begin with the end in mind."
To succeed, Covey suggests visualization. He points out many peak, athletic performers are visualizers. Covey writes: "You can do it [visualization] in any area of your life. Before a performance, a sales presentation, a difficult confrontation, or the daily challenge of meeting a goal, see it clearly, vividly, relentlessly, over and over again. Create an internal "comfort zone." Then, when you get into the situation, it isn't foreign. It doesn't scare you."
Habit 3: Put First Things First
Put First Things First is the habit that became a book. But, we'll wait for the movie. While we strongly recommend The Seven Habits of Highly Effective People, the book, First Things First, didn't really seem to add any significant insight to the basic theme. Big rocks, sand, jar. Put the big rocks in the jar first, so they will fit. Same old, same old.
The key to putting first things first is to understand that you have many things you can do which will have a significant, positive impact on your life. But, you probably don't do them, because they aren't urgent. They can be delayed. Of course, so will your success.
Covey stresses that you must balance Production (P) with Productive Capability (PC). You must keep the engine producing, but also maintain the engine. You must allocate time to improve your Productive Capability. You shouldn't spend time doing unimportant things.
Covey says that all time management can be summed up by one short line: "Organize and execute around priorities." He's correct. And, that's why you don't need to read First Things First! The first-things-first chapter in The Seven Habits of Highly Effective People will teach you all you need to know about time management.
Interdependence
The remaining habits in The Seven Habits of Highly Effective People are habits of interdependence. Rather than being dependent upon other people, or trying to be totally independent, we learn how to be more effective by effectively working with others.
Covey writes: "Independent thinking alone is not suited to interdependent reality. Independent people who do not have the maturity to think and act interdependently may be good individual producers, but they won't be good leaders or team players. They're not coming from the paradigm of interdependence necessary to succeed in marriage, family, or organizational reality."
Stephen Covey's Habits of Interdependence.
Habit 4: Think Win/Win
Thinking Win/Win means seeking mutual benefit in your human interactions. Covey points out that many people think Win/Lose. They internally believe, "If I win, you lose." Such people focus upon power and credentials, but have trouble building meaningful relationships. Such people drive other people away and are seldom extremely effective. Such Win/Lose thinking is encouraged and programmed into us by society.
Covey writes: "[A] ...powerful programming agent is athletics, particularly for young men in their high school or college years. Often they develop the basic paradigm that life is a big game, a zero sum game where some win and some lose. 'Winning' is 'beating' ... ."
To be successful you should learn to leverage the strengths of others. To do this effectively involves being able to find Win/Win deals. No deal is better than any non-Win/Win deal.
Habit 5: Seek First to Understand, then to be Understood
Covey observes that few people have training in listening. Most people don't listen. They wait to talk. But, how can you discover Win/Win deals, if you aren't even listening to the other party? Covey also suggests that you don't read your own personal autobiography into the lives of other people. Listening shouldn't be selective listening. Nor should we only pretend to listen to others.
Covey writes: "Communication experts estimate, in fact, that only 10 percent of our communication by the words we say. Another 30 percent is represented by our sounds [tone? Or, does he mean "sounds" like chortle, chortle, grunt, grunt ?], and 60 percent by our body language. In empathic listening, you listen with your ears, but you also, and more importantly, listen with your eyes and with your heart. You listen for feeling, for meaning. You listen for behavior. You use your right brain as well as your left. You sense, you intuit, you feel."
Habit 6: Synergize
Covey writes: "What is synergy? Simply defined, it means that the whole is greater than the sum of its parts." Covey goes on to discuss synergy in the classroom and synergy in business.
To be effective, The Seven Habits of Highly Effective People emphasizes that we must value the differences between people and how they view the world. That difference can be used as a source of insight.
Covey says: "Valuing the differences is the essence of synergy-the mental, the emotional, the psychological differences between people. And the key to valuing those differences is to realize that all people see the world, not as it is, but as they are."
Habit 7: Sharpen the Saw
The final habit discussed in The Seven Habits of Highly Effective People is "Sharpen the Saw," which focuses upon self-renewal. There is an analogy with Habit 3: Put First Things First, where we learned that we must balance Productivity (P) with future Productive Capability (PC). Just as a machine will wear out quickly if not properly maintained, the same is true for your own personal productivity. You must take care of yourself.

Sunday, March 27, 2005

Deddy Learning Center

Disini semua bisa belajar tentang apa saja untuk meningkatkan kualitas hidup kita bersama.
Kami menerima masukan dari anda semua demi kemajuan kita.